Hari ini

T’rimakasih Yesusku

T’rimakasih Yesusku

Puji Syukur hanya bagi NamaMu

T’rimakasih Yesusku

T’rimakasih Yesusku

Puji Syukur hanya bagi Tuhanku

Hari ini, dengan penuh perjuangan menerjang hujan, aku melangkahkan kaki ke rumah sakit untuk mengambil hasil Patologi sel tumor yang diambil waktu Operasi untuk memastikan apakah tumornya jinak atau ganas. Aku dengan rasa lumayan yakin bahwa kondisiku tidak apa-apa masuk ke dalam ruangan dokter untuk meminta analisisnya mengenai hasil tersebut. “Oh, fam (jinak) ya..”

“Berarti saya udah sembuh dok?”

Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

“Tapi saya rasa kadang suka pegel gitu ga papa kan dok?”

“Gak papa…”

Oh Tuhan, ga ada yang menandingi kebahagiaanku saat ini… Aku sehat?

Kalo diingat-ingat, dulu waktu aku sakit, aku sering bolos kuliah dan bohong sama temen-temenku kalo aku ke rumah saudara dll. Bukan hanya itu, proses menuju operasi itu juga sakit sih lumayan…

Yang paling sakit waktu tes antibiotik beberapa jam sebelum operasi. Itu tuh jauh lebih sakit dari infus, dari ambil darah dan di situ aku merasa benar-benar seperti orang penyakitan. Belum lagi pikiran-pikiran aneh sebelum operasi, kalau-kalau sesuatu terjadi, atau yang paling fatal (tau kan ya? Aku masih banyak dosa, dan belum ada sesuatu yang berarti yang kulakukan di hidup ini untuk orang-orang).

Waktu itu, aku masuk ruang operasi hari Jumat, 19 Desember 2014 pukul 11.30 WIB. Aku didorong dengan kursi roda, padahal aku masih bisa jalan. Di situ, aku jujur takut banget. Aku berdoa sama mama dan kak Cory, dan kami pun berpisah. Menunggu operasi, aku semakin cemas di ruangan itu. Pakaianku hijau, ruangannya terdiri dari banyak besi, dan hawa-hawanya yang kayak di film-film itu loh… Dan pas di depanku, terpampang papan jadwal, nama pasien, umur, penyakit, tindakan dstnya. Hari itu yang paling muda dioperasi umurnya 11 tahun dan yang paling tua sekitar 70an (lupa 70 berapa)

Aku masuk ruangan operasi jam 13.00 WIB lebih dikit dan keluar jam 15.00. Mamaku udah cemas, karena aku lama banget di ruangan operasi, dia takut kalau-kalau aku termasuk pasien yang ‘gawat’.

Sebelum dioperasi, aku yang lebih konyolnya ingin ke toilet, untunglah ada seorang perawat baik hati (yang ternyata PKL di Rumah Sakit itu dan umurnya sama denganku) yang mau menemani dan dari sejak saat itu aku tidak tegang, karena kami jadi ngobrol banyak. Di sampingku, ada seorang ibu paruh baya yang mau dioperasi matanya, tapi tekanan darahnya tinggi dan itu bisa berbahaya sama dianya sendiri, tapi ku lihat dia begitu ketakutan, jadi ini aku yang cemas, malah menjadi motivator dadakan buat ibu itu dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal aku sendiri pun masih agak takut.

Tibalah saatnya aku masuk ruang operasi. Di setiap ruangan itu di atas pintunya ada lampu berwarna merah seperti lampu ambulance, hanya lebih besar. Dan aku dipasangi alat-alat, dari mulai tensi di kaki, terus kayak monitor penjepit di jari tangan dll. Sebelumnya, diputar lagu Raisa-LDR, aku paling ingat bagian ini .. Dokter biusnya ngajak ngobrol dan tiba-tiba aja aku dah terbangun setelah operasi selesai. Puji Tuhan lancar…

Dari semua peristiwa yang aku alami aku belajar banyak hal:

  1. Aku belajar untuk bersabar
  2. Belajar jadi orang yang kuat
  3. Mulai bisa masak… Oh iya, ini aku lupa cerita… Latar belakang kenapa aku sakit tumor, karena mungkin keturunan (dulu mamaku ada tumor di belakang kuping waktu aku masih 2 atau 3 tahun) dan aku sering beli makan di luar (pastinya si penjual makanan supaya laris ada kasih MSG ke makanannya)
  4. Belajar untuk ga nyerah
  5. Percaya pada pertolongan Tuhan
  6. Percaya kalo ada hujan, pasti ada pelangi habis ini.
  7. Belajar mensyukuri hidup sih intinya. Waktu aku sakit, aku pikir akulah orang paling tidak bahagia di bumi ini, ternyata bukan. Karena aku setiap berobat ke dokter onkologi, jadi temen-temen berobatku, ada yang penyakitnya kayak kanker dll, belajar bersyukur kalo penderitaanku ini ga ada apa-apanya dibandingkan apa yang mereka alami.
  8. Belajar bersyukur sama Tuhan. Karena sebenernya dari Tingkat 2 aku udah ngerasa, tapi baru tingkat 3 aku beranicerita ke mamaku. Bersyukur kalo tumor itu yang sudah dari tingkat 2 ada, ternyata adalah tumor jinak.
  9. Aku belajar bahwa jadi tenaga medis itu bukan hal yang mudah.
  10. Aku belajar untuk terus bersukacita, seperti dokterku (supaya pasiennya ga cemas), supaya orang lain ikut kecipratan sukacita kita.
  11. Aku belajar bahwa penyertaan Tuhan itu sempurna dalam hidupku. Tepat sekali, sebelum PKL, Dia sudah menyelesaikan semuanya bagiku.

Aku ga mau cerita waktu sakit dulu pada orang-orang, karena aku tidak mau membebani kalian. Yang penting, sekarang aku sudah sembuh kan? 🙂

Ini ceritaku… Gimana ceritamu bersama Tuhan? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s