Bapak :’)

Pagi ini, gua mendengar satu berita yang ga enak banget dari mama, kalau bapaknya temen gua udah berpulang ke rumah Bapa di Sorga. Jujur, gua ikut sedih karena keluarga itu gua kenal baik semua dari mulai anaknya yang sebaya sama gua (temen gereja dan bimbel gua waktu SMA), semuanya gua kenal. Setahu gua, om itu udah pernah sakit waktu dulu dan udah sehat, tapi rencana Tuhan jauh daripada semua akal pikiran kita. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa diberi penghiburan sama Tuhan Yesus ya…


6 November 2003, tanggal itu, ya tanggal itu… Aku tak akan pernah melupakan hari itu. Waktu itu, bulan puasa dan aku ingat satu hal, kalau saat itu aku yang masih kelas 4 SD sedang libur sekolah karena puasa. Tapi, ada satu hal yang aneh waktu itu, bapak pulang ke rumah lebih cepat, beliau masih bisa menyetir sendiri waktu itu.

Dan tiba-tiba bapak berteriak memanggil-manggil dari kamar, “Ma, bed…”

Abed adalah nama anak kost di rumahku saat itu..

Mama dan bang abed pun bergegas ke kamar, dan di sana bapak sudah setengah sadar dan berbicara ngawur. Bapakpun segera dilarikan ke RS sekitar jam 3. Aku, mama, kakak, bang abed dll serta namboruku mengantar bapak..

Namboru adalah panggilan orang batak untuk saudara perempuan ayah

Di situ bapak masuk UGD, lalu ICU. Dan mama dalam kondisi paniknya menyuruh aku dan kakak pulang ke rumah duluan saat itu.

Abangku sudah kuliah di Bogor saat itu, jadi dia tidak bersama dengan kami, dan kasusnya saat itu dia sedang sakit Hepatitis A di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta karena kelelahan menjadi pecinta alam di kampusnya.

Sesampainya di rumah tak berapa lama, tukang tambal ban di dekat rumahku memberi tahu kami, “Bapak udah ga ada…”

Aku dan kakakku menangis sekencang-kencangnya, aku yang masih kecil saat itu menangis sekuat tenaga, kami tak tahu apa lagi yang harus kami lakukan… Aku berkata, “Yah, padahal bapak bentar lagi mau ulangtahun…” Hanya itulah yang aku ingat saat itu sebagai seoarang gadis kecil.

Bapakku ulangtahunnya tanggal 14 November.

Akhirnya mama sampai di rumah setelah ia pingsan dan saat itu jenazah bapak belum tiba di rumah. Kamipun duduk berdua di ruang bunga mama. Di situ, sebagai seorang anak kecil, akupun bertanya pada mama, “Jadi kita gimana?”

Hidup kita selanjutnya gimana?

Dan mamapun berkata dengan sedikit tersenyum dengan mata yang sembab, “Kan ada Tuhan Yesus…”

Sepanjang acara pemakaman, orang-orang yang datang mengira bahwa aku belum mengerti kalau bapakku sudah meninggal, karena aku tidak menangis sama sekali. Padahal mereka tidak tahu, puncak kesedihanku yang teramat akut jika muncul adalah air mataku bahkan tidak bisa keluar sama sekali saking sedihnya.

Akhirnya tibalah abangku yang masih sakit dan menangis sekeras-kerasnya. Sungguh masa-masa yang sangat kelam dan pahit bagi kami sekeluarga kehilangan orang yang kami sayangi. Laki-laki pertama yang paling aku sayangi dan cintai adalah bapak dengan segala cara hidupnya, disiplinnya (walaupun terkadang dia sedikit keras), kerapiannya (baju-baju di lemariku sebagai seorang perempuan bisa kujamin 100% tidak lebih rapi daripada baju-baju yang ia susun sendiri dengan luar bisa lurus, rapi dan tidak ada kemencengan sama sekali). Buatku pribadi, aku sangat amat teramat kehilangan seorang ayah, teman, sahabat yang begitu kusayangi luar biasa. Bersama bapak, biasanya kami menghabiskan waktu makan siang bersama sehabis pulang sekolah waktu SD, bersamanya juga kami selalu dimarahi mama kalau pulang dari membeli ‘sesuatu’ dan sampai di rumah dengan ‘beberapa’ benda yang seharusnya tidak perlu dibeli, dialah partner yang selalu mengajakku bermain mobil remote control di arena mainnya langsung saat itu, dia partner main game, dan sebelum dia meninggal dia berjanji akan membelikanku sebuah computer kecil untukku belajar. Tapi, ada satu hal aneh yang kurasakan kira-kira sebulan atau beberapa minggu sebelum bapak meninggal. Sebelumnya, dia belum pernah mengajakku berdua membaca Alkitab. Tapi pada suatu malam, ia mengajakku membuka Pengkhotbah 3 (Untuk segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa). Setelah ia meninggal, aku baru menyadari, bahwa itu seperti sebuah pesan bahwa dia akan pergi.

Aku benar-benar kehilangannya, bahkan sampai beberapa bulan, aku, mama, dan kakak selalu tidur di kamar mama. Namun, tanpa mereka ketahui, berbulan-bulan aku selalu menangis tiap mau tidur kalau ingat bapak. Aku benar-benar kehilangan. Aku gak mengerti mengapa secepat itu Tuhan memanggil bapakku? Kenapa ini harus kualami di umurku yang masih sangat kecil? Tapi aku terus bertanya pada Tuhan.

Aku ingat saat pemakaman bapak, ada reff lagu yang indah dinyanyikan seperti ini.

Semua yang terjadi di dalam hidupku, ajar kumenyadari Kau s’lalu sertaku

B’ri hatiku s’lalu bersyukur padaMu

Kar’na rencanaMu indah bagiku…

Tahun demi tahun pun berjalan, kini aku sudah kuliah di semester 6 di sebuah Sekolah yang dibiayai pemerintah, aku bersyukur untuk hal ini. Aku bisa makan enak, jalan-jalan, les yang baik, dll yang dulu kupikir aku tak bisa karena bapak sudah ga ada, tapi nyatanya? Tuhan kirim berkat yang banyak buat mamaku, mama yang paling luar biasa cantik, baik, pintar masak, menjadi figur ayah yang luar biasa buat kami selama 12 tahun terakhir, mengajarkanku untuk ga nyerah, menguatkan aku waktu aku sakit dulu, dan ini semua hanya karena kasih Tuhan semata. Bukan kekuatan kami, bukan kehebatan kami, ini semua anugerah Tuhan.

Rina, kak putri, bang andre, tante, christy, aku tahu kalian saat ini pasti sangat kehilangan figur ayah itu, tapi ada 1 Bapa yang tidak pernah meninggalkan kita, Bapa di Sorga, percayalah bahwa Ia sanggup menyertai hidup kita dan yakinlah Om sudah tenang di sana, di tempat yang jauh lebih baik daripada dunia ini. Kelak kita akan bertemu lagi di sana, meskipun kita tak saling kenal di Surga, tapi yang pasti kita akan bersama-sama di Surga kelak, pada suatu waktu, ya, pasti indah pada waktunya.

Tuhan Yesus, kalau bisa, aku kirim salam sama bapak ya. Tolong katakan sampai jumpa di Surga nanti :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s