Membangun Jembatan

Ibadah 1 JPCC Kota Kasablanka 3 April 2016
By: Ps. Jeffry Rachmat

Kita ini adalah Ambassador Allah, maka kita harus punya identitas diri yang kuat.

Lukas 5:27-32
Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”
Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Lewi di sini maksudnya Matius.
Kita diinginkan Tuhan bukan sekedar datang ke Gereja, tapi Ia mau kita semua bertobat.
Miskomunikasi, tidak peka itu sangat mungkin terjada pada kita jika kita tidak memiliki hubungan. Bahaya sekali asumsi itu, asumsi muncul karena tidak adanya hubungan. Yesus datang membangun jembatan dengan orang-orang berdosa ini (pemungut cukai).
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi jembatan:
1. Relevan. Maka kita harus meninggalkan atribut kita supaya bisa nyambung dengan mereka. Relevan itu berarti sesuai tingkatannya. Misalnya saya ngomong bahasa sunda sama orang ambon (yang ga bahasa sunda) itu tidak relevan, sebagus dan sehalus apapun bahasa sundanya kalau orang itu ga mengerti, itu percuma, tidak relevan menurut saya. Relevan = kamu layak mendapatkan perhatian saya = kita tertarik dalam ‘dunia’ mereka ( You are worthy of my attention )

Filipi 2:6-7
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Intinya orang mau terbuka dalam sebuah percakapan, jika kita menunjukkan interest pada dunia mereka. If you win the heart, you win the man.

Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

The more you know God, The more relevant you become ==> Kita menjadi semakin membumi

2. Kasih. Love is the important factor for building bridge. Kasih inilah elemen yang menyebabkan kenapa Tuhan mau datang ke dunia ini.

“Kasih adalah suatu keinginan untuk membahagiakan atau menguntungkan orang lain meskipun kita harus berkorban.” Ed Cole

Definisi Kasih ==>1 Korintus 13:4-7

3. Kita harus menghormati orang yang mau kita bangun hubungan dengannya. Hormat = Menghargai, menaruh nilai. Respect.

“What you honor or respect, you will attrack. What you don’t respect and honor, will leave you.” Rick godwin

4. Hikmat
Kita harus punya hikmat agar tujuan yang baik bisa tercapai.

Amsal 6:27-28
Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?
Atau dapatkah orang berjalan di atas bara, dengan tidak hangus kakinya?

Kita harus tahu kelemahan kita dimana.

Happy sunday. Semoga kita bisa membangun jembatan dalam hidup ini dengan orang lain. God bless and have a nice weekdays. See you 🙂 🙂 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s