A meaningful film

Saya jenuh ngerjain skripsi dan nge-stag ide. Kebetulan kakak saya ngajakin nonton di Bioskop deket rumah opung saya, ternyata kami datang kecepatan dan harus nunggu setengah jam sampai bioskopnya buka. Kami pun ngantri dan entah kenapa pilihan kakak saya jatuh ke Rudy Habibie.

Singkat aja ya, ini saya lagi nge-stag makanya nge-blog hihi jenuh cuy..

Cita-cita pertama saya waktu kecil umur 4 tahun ketika alm.ayah saya tanya, “Aku pengen jadi profesor pesawat terbang biar kayak Pak Habibie.” B.J. Habibie adalah sesosok orang yang saya kagumi selain Monita Tahalea tentunya. Bahkan, saya punya cita-cita seperti dia. Cita-cita saya pertama kali jadi engineer seperti Pak Habibie, namun pada akhirnya saya tidak pernah membuat Teknik mesin jadi pilihan saya, karena entah kenapa saya lebih suka berkutat di bidang lain.

Yang kedua, momen yang bikin saya menangis adalah sewaktu Bapaknya Pak Habibie meninggal ketika sholat, itu momen yang buat saya teringat pada ayah saya. Ayah saya sering mengajak saya main bersama, main mobil remote control sampai ke arenanya. Saya ingat warna mobilnya merah.

Ah ya, momen sebelumnya mirip sama apa yang saya alami. Tepat sebelum sholat, sewaktu ayahnya bilang, “Papi janji bantuin kamu nyusun mekanik.” Ini mengingatkan saya pada ayah saya yang bilang, “Bapak mau belikan komputer kecil buatmu dan kak cory belajar.” Kemudian beberapa hari kemudian ayah saya meninggal dunia. Beliau tidak sempat merayakan ulangtahunnya yang hanya tinggal 8 hari lagi ke-50 tahun, dan beliau pun tak sempat membelikan kami komputer kecil.

Momen ketiga yaitu saat Indonesia dibom Jepang dalam Film itu. Yang diselamatkan oleh Rudy Habibie kecil adalah buku dan peralatan mekaniknya. Saya waktu kecil jika jadi dia sudah dipastikan hanya akan menyelamatkan nyawa diri sendiri dan keluarga saya tanpa terpikir akan buku.

Momen keempat yaitu semangatnya yang luar biasa belajar, menegur saya yang baru ngerjain skripsi buat jadi Sarjana aja udah ngeluh, liat itu orang dari 60 tahun lalu sungguh-sungguh belajar bahkan punya cita-cita besar buat bangsanya.

Momen kelima yaitu perkataan ayahnya “Jadilah sumber air, rudy..” Dan telepon ibunya yang bilang, “memang sulit menjadi sumber air yang bersih. Jangan menyerah nak. Air yang keruh, makin dikocok, ya makin keruh… biarkan saja kotorannya mengendap sendiri.” Hal ini mengingatkan saya akan diri saya sendiri dalam mengerjakan skripsi ini, saya pernah telepon mama saya dan nangis serta bilang pengen ganti topik karena metode yang saya pake ini untuk S2.

Memang, ada masa-masa dalam hidup kita dimana kita tidak tahu harus berbuat apa, tidak ada yang bisa menolong, tapi semakin kita coba lari dari masalah, masalah selanjutnya akan memperkeruh keadaan.

Saya gak boleh nyerah, tinggal dikit lagi, dikit lagi saya wisuda. Pasti bisa! Pasti bisa!

Momen keenam saat rudy sulit mendengar pendapat orang lain. Hal ini mengajarkan saya bahwa Seminar Pembangunan tetap berjalan meskipun dia sakit dan ada perubahan sedikit, tapi all is well…

Jadi, kadang dalam sebuah rapat, kita ingin pendapat kita lebih didengar. Namun, jangan lupa untuk berbesar hati menerima keputusan yang ada, meskipun mungkin itu bukan keinginan kita.

Momen ketujuh, saya ingat perkataan Ilona

“Saya ingin kamu terinspirasi dari makanan.”

Lalu, setelah itu saya dikasih pisang sama opung saya tadi pas ngerjain skripsi. Saya khawatir kalau saya butuh inspirasi, saya makan terus jadinya -_- (Maaf yang ini OOT :v )

Momen kedelapan mengajarkan saya bahwa ehm ehm ehm

Cinta tak harus memiliki…

Padahal Rudy dan Ilona udah cocok satu sama lain, namun karena perbedaan keyakinan dan kultur, mereka harus berpisah. Tapi semuanya demi kebaikan juga. Di sini saya juga nangis. Sedih banget, tidak bisa bersama :”)

Tapi, saya percaya 1 kalimat ini…

Leave the past where it belongs, true love will find you.

Amin, amin, amin.

Tapi, walaupun Ilona hanya singgah sebentar di hidup Rudy, yang bisa saya tangkap tadi, Rudy cinta sama Ilona, Ilona menjadi sumber inspirasi Rudy dalam pekerjaannya sehingga sewaktu rapat pun ia makan lalu mendapatkan solusinya, dan Ilona adalah seseorang yang sangat berarti buat Rudy Habibie.

Saya percaya, mungkin kita diizinkan Tuhan, ehm kalo kata temen saya sih, sebut saja nona: “Jodoh orang lain pernah ngebahagiain lu la… Nah, jangan-jangan jodoh lu lagi ngebahagiain wanita lain la… wkwkwk 😀 “

Tuhan izinkan kita merasakan cinta, mencintai orang lain yang walau pada akhirnya gak bersama dengan kita kelak, untuk mengajarkan kita tentang cinta itu. Jadi, waktu kita ketemu dengan jodoh (cinta sejati) kita kelak, kita udah matang.

Oh ya, saya teringat pertanyaan si nona ini sama saya beberapa waktu lalu:

“La, kalo nanti lu putus sama pacar lu, lu hapus gak fotonya dari sosmed lu?”

“Hello, emang anak kecil masih labil? Ya enggaklah, gimana pun kan pernah jadi bagian hidupku wkwkwk 😀 Iya kuhapus, JIKA DAN HANYA JIKA suami  ga suka dan minta dihapus.”

Sekian, melihat perjuangan Pak Habibie, saya jadi makin semangat nyekrip. Buat yang lagi bikin skripsi di seluruh dunia, semangat juga ya…

Jangan menyerah 🙂

Masalahnya adalah skripsiku belum selesai…

Solusinya adalah kerjain skripsi

Problem solved 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s