Walk by Faith, not by sight

Seringkali kondisi yang kita alami membuat kepercayaan pada Tuhan luntur. Misalnya: saat kita atau orang yang kita kasihi sakit keras, rasanya semua janji Tuhan untuk memberikan kesehatan bagi kita itu hilang begitu saja. Kadang kita bertemu orang yang tidak tepat, namun karena kita terbawa perasaan dan takut kalau kita tak akan bertemu orang yang lebih baik, maka kita sampai rela menjalin hubungan dengan orang yang tidak tepat untuk kita, orang yang tidak sesuai rencana Allah dalam hidup kita.

Hal ini mengingatkan saya pada kisah Abraham. Dimana Tuhan berjanji padanya untuk memberikannya anak dari Sara, isterinya. Namun, Sara memilih untuk memiliki anak dari hamba perempuannya dengan Abraham.

Saya sering bertanya pada seorang teman, “Mengapa kamu terus menjalani hubungan dengan orang yang kamu tahu pada akhirnya kalian tidak bisa bersama karena perbedaan keyakinan? Percayalah ***, bahwa pasti ada laki-laki yang jauh lebih baik darinya yang seiman dengan kamu suatu saat nanti. Buat apa membuang-buang waktu.”

Kalian tahu 1 hal?

Kadang dalam hidup ini, logika tidak selalu berbuahkan kenyataan. Pada kenyataannya, banyak orang yang divonis akan segera meninggal tapi karena imannya pada Tuhan Yesus, mereka menjadi sembuh, bahkan ada banyak yang masih hidup lama.

Dalam Alkitab, beberapa kali Tuhan katakan, “Jangan takut! Percaya saja!”

Saat ini, saya hanya ingin mengajak pembaca semua untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini:

Apa hal yang membuat kamu takut?

Apa hal-hal yang menurut kamu mustahil?

Jangan jadikan keadaan di depan mata kita sebagai pengukur kemampuan kita. Kamu percaya kan mujizat masih ada? Tuhan Yesus masih mengerjakan mujizatNya bahkan sampai saat ini. Apa yang kamu khawatirkan?

Kalau Tuhan Yesus sudah memberikan pertolongan dan melakukan banyak mujizat di hidup kamu masa lalu, Ia pun sanggup melakukannya hari ini, esok, dan seterusnya


Seberapa pun kecewanya kamu akan hal-hal yang terjadi di hidup ini. Tetaplah bersama-sama setia mengikutNya sampai akhir hidup kita. Maaf kalau hidupku sebagai teman baikmu tak cukup untuk membuatmu tetap bertahan. Aku mungkin tak tahu alasan atas setiap keputusan besar dalam hidupmu. Tapi, aku hanya merasa menyesal dengan diriku sendiri. Bahwa ternyata aku bukanlah seorang teman yang cukup baik untuk membuatmu bertahan, teman baikku. Tapi, aku selalu berdoa agar suatu hari nanti, kau bisa kembali menjalani hidupmu yang lama untuk setia percaya padaNya sampai akhir hidupmu kelak. Kami semua, terkhusus Tuhan Yesus sangat menyayangimu. Ia apalagi. Ia membentukmu menjadi seorang yang luar biasa menurutku. Kau punya cita-cita besar atas hidupmu.

Salah satu kado terindah di hidupku kelak ya teman baikku, jika aku melihat dan mengetahui bahwa kau kembali percaya ๐Ÿ™‚


Pesan ini untukku, teman baikku, dan semuanya ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s