Halaman Pertama

13 Februari 2017

Malam itu, sebelum aku berangkat ke Cengkareng, kami sekeluarga berdoa di rumah opung dan beliau menangis. Beliau berkata, “Opung senang, setiap kamu ke sini, rumah opung mengkilat.” Aku merasa sedih karena beliau sampai menangis mengantarkan kepergianku. Tapi, aku sungguh bahagia dengan 1 ayat Alkitab yang beliau sampaikan padaku dalam doa itu..

Efesus 3:20

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.

Saya percaya hal-hal besar melebihi segala akal pikiran saya, akan Tuhan kerjakan dalam hidup saya. Waktu magang kerja di Jakarta, saya ingin sekali suatu siang saya bisa dikasih makan nasi kotak saja sama seperti beberapa teman saya dari Subdit lain. Dan ternyata di hari itu juga, saya ditraktir makan pegawai-pegawai yang berulangtahun di bulan Januari untuk makan di Atrium (Ichiban Sushi), dan saya bisa makan ramen (makanan kesukaan saya). Jauh lebih enak daripada hanya sekedar nasi kotak. Seringkali, saya meminta sesuatu dan Tuhan memberikan jauh lebih banyak, lebih baik daripada yang saya minta. 

Kami pun pergi (seperti biasa) sangat amat teramat on time. Ibu saya berbicara dengan ibu teman saya sebut saja Budi. Mereka berbincang mengenai banyak hal bahwa ibu Budi itu sangat berat melepas anaknya yang notabene laki-laki untuk pergi ke Papua. Dalam hati saya berpikir, “Mungkinkah mama merasakan hal yang sama tapi tak mengungkapkannya?”

Harus aku akui, keluargaku bukan keluarga yang suka galau, mellow dan lain sebagainya. Hanya aku saja yang agak mellow dan khawatiran serta panikan. Mereka semua easy going. Bahkan, mama bahagia sekali melepasku pergi jauh. 

Aku bertemu dengan iman, ian, septy, hotna, ria, dan sarshe. Mereka adalah inner circle saya. Waktu di Gate terakhir, saya berjalan duluan sendiri mendahului Sari dan Nelica. Berkali-kali saya melakukan perjalanan, tapi harus saya akui kalau ini adalah perjalanan paling berat yang harus saya lalui berpisah jauh dari semua orang yang saya sayangi dan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, tidak ada saudara sama sekali di Papua. Rasanya, seperti akan pergi ke belahan dunia mana gitu.

Puji Tuhan, penerbangan tengah malam hingga pagi itu cukup tenang. Tapi, berat berpisah dengan mereka semua. Jadi, saat lampu dimatikan dan semua orang tertidur lelap, saat itu rasanya menangis sedikit merupakan hal tepat. Saya tak punya bayangan untuk bagaimana cara kembali pada mereka semua. Tapi, hidup harus terus berjalan. Pasti, akan ada jutaan hal dan kesempatan luar biasa yang bisa saya nikmati di sana. Pasti Tuhan punya rencana yang indah.


14 Februari 2017

Setibanya di Bandara Sentani, Jayapura saya bersyukur koper saya aman-aman saja. Kami pun melangkah ke BPS Provinsi ber-65 orang. Sepanjang jalan udara begitu segar, banyak bukit-bukit hijau, udara yang begitu sejuk, dan semua hal ini tak saya temui di Jakarta. Rasanya bahagia sekali 🙂

Sesampainya di BPS Provinsi, kami diberi pengarahan oleh Bapak kepala beserta jajarannya dan senior-senior kami. Ketika salam-salaman, bapaknya bilang, “Saya pikir kamu Chinese” (sudah sering dikatakan demikian wkwkwk). Akhirnya pembagian penginapan pun diadakan dan aku menginap beserta keempat orang temanku lainnya di rumah kepala bidang. Dan kami diantar oleh Om Titus (Sebutan bapak yang ramah di Papua adalah Om. Pengetahuan baru) ke rumah dinas itu. Tadinya aku tidak begitu nyaman karena harus berpisah dengan banyak teman lainnya yang menginap di Kotaraja. Tapi ternyata sesampainya di sana, bapak sudah ada dan tadinya kami dibagi menjadi 2 kamar. Namun karena azas solidaritas, kami bergabung menjadi 1 di kamar atas yang ada ACnya puji Tuhan karena ini dekat laut agak panas dan kami bisa dikasih kamar ada ACnya. Ternyata makan malam disediakan oleh bapak ibunya dan makanan itu enak sekali 🙂 Saya belajar banyak hal bahwa kalau saya ditumpangi orang, saya harus melayani tamu saya sepenuh hati di rumah saya kelak. Semoga bapak dan ibu semakin diberkati Tuhan ya. Walau saya dan beliau bekeyakinan berbeda, tapi saya belajar untuk murah hati pada orang lain. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s