A sweet journey

Selamat malam readers dimanapun bagian dunia! Wah, semenjak agak sedih ya berpisah sama keluarga ke tempat yang jauh. Well, i could say, i’m happy for living to the fullest.

Kadang, dalam hari-hari kerja, sulit bekerja sama dengan beberapa rekan kerja yang such a ah sudahlah… Tapi gua berasa bersyukur banget ditempatkan di Waropen. To be honest, kabupaten ini tidak sepedalaman beberapan kabupaten lainnya di Papua yang kebanyakan orang agak takut tinggal di sana karena beberapa hal. Tapi, setelah berusaha menempuh perjalanan pencarian data sampai ke kampung-kampung di sini, ada juga daerah yang cukup pedalaman.

Sumber sukacita gua apa aja kerja di Waropen?

Ehm, kayaknya ratusan halaman novel pun gak bisa menggambarkan betapa banyak rasa syukur yang gua punya πŸ™‚ A whole happiness. Alive.

1. Gua dipertemukan dengan teman-teman kerja yang keduanya sangat berbeda pribadi. Yang satu tegas, pintar masak. Yang satunya (kebalikannya) tapi sangat rajin cuci piring dan suka jalan-jalan. Kehidupan gua di sini membuat skill masak gua semakin baik. Perbumbuan gak pernah gua kenal sama sekali semenjak bisa masak. Pasca operasi, gua mulai bisa masak tapi rasanya sangat amat teramat datar, gua ga ngerti perbumbuan dan di sini ada teman gua yang ngajarin gua masak. Gua rasa 3 tahun lagi gua bisa buk restoran wkwk (bercanda).

Walau kami dari suku bangsa yang berbeda dan berbeda keyakinan, mereka gak keberatan mengantar dan menjemput gua ke Gereja (notabene sampai saat ini gua belum bisa naik motor, belum sempat belajar, survey lagi ramai lancar bung).

IMG_20170221_121328
Waktu masih di Jayapura, sehari sebelum ke Waropen πŸ™‚

2. Gua mendapat sosok kakak yang bisa saling menguatkan yang notabene adalah kakak asuh gua di kampus dulu. Dia baru masuk #stiscantik loh wkwkwk πŸ˜€ Salut sama dia yang perjuangannya gigih dan tetap kuat serta tabah menghadapi banyak tantangan dalam pekerjaan. Kebetulan kakak ini memgajar sekolah minggu. Jadinya gua segereja sama dia. Nah, gua di sini ibadah di Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Berbeda dengan gereja gua sebelumnya. Lagunya juga beda. Tapi gua nyaman di sini. Dan gua salutnya kalau ada Perjamuan Kudus, ada ibadah khusus yang buat jemaat jadi makin mengerti tentang Perjamuan kudus itu.

3. Mendapat sosok bapak yang baik.

Di kantor ada Pak Bagus, beliau 3 tahun lagi pensiun. 1 kata-kata beliau yang selalu gua ingat, “Ah, sudah hidup ini jangan diambil pusing. Senang-senang saja.” Beliau selalu bersukacita. Kalau beliau masak ubi goreng selalu membagikan pada kami. Termasuk kepiting yang dikasih kuah waktu itu. Beliau sangat murah hati.

Ada juga CS di sini yang biasa dipanggil ‘Opa’ dan gua selalu tertawa waktu awal-awal panggil Opa. Gua kepikiran oppa-oppa Korea wkwkwk πŸ˜€

4. Dapat saudara-saudara baru

Bang hamdi (atasan gua) di IPDS (anyway ini harusnya kerjaan anak Komputasi, kok jadi nyasar di sini ya gua? Hehehe Tapi kok jadi agak ada pikiran nyambung sekolah IT ntar? Ah sudahlah mungkin gua bercanda. ) beliau ini pengusaha sukses di Waropen. Patut dicontoh.

Nah kalo kak wondo, melihat wajahnya pasti orang terpikir Vidi aldiano. Kadang kami bertiga pikir ia seperti orangtua kami, selalu menyuruh makan ke rumah kalau dia yang giliran masak. Kalau ada orang tahu lebih sering dia yang masak daripada kami, mungkin gua diblacklist dari daftar calon istri. astaga -_-

5. Gua ketemu pedagang di pasar yang kampungnya di Binjai. Dan dia jadi ramah sama gua. Dan ini juga mempermudah survei harga bulanan dari Distribusi (kerjaan teman gua) ke pasar karena ada dia. Hehehe senang ketemu teman sekampung.

6. Orang-orang di sini sangat ramah dan sabar πŸ™‚

7. Gua udah sekali jalan-jalan ke pedalaman πŸ™‚ Dan gua senang. Gua suka mandang-mandang, lihat jalan, pantai, hutan..

8. Fisik gua jauh lebih kuat di sini πŸ™‚ Gua jarang sekali sakit.

9. Gua lebih sering olahraga di sini. Waktu itu, rasanya otak gua kusut abis entry data survey dan gua main bulutangkis sama temen gua (yang lagi mau nurunin berat badan) dan semua beban gua rasanya hilang dan badan gua berasa enteng.Β Olahraga itu buat kita sehat karena rasa capek habis kerja itu berkurang.Β 

10. Belajar bersyukur. Dulu, rasanya ke pasar bukanlah keadaan yang menyenangkan. Tapi, sekarang ke pasar aja gua senang. Internet juga hanya tersedia di tempat yang pasang Wifi (saat ini gua masih di rumah dinas jadi masih ada wifi). Ada internet via kuota di hp tapi mungkin hanya bisa kirim WhatApp. Jadi, banyak orang di sini yang nonton TV. Dan mereka bahagia tanpa harus buka Internet. Gua belajar bahwa kebahagiaan bisa kita temukan dalam hal-hal yang sederhana. Hidup mereka satu sama lain saling memperhatikan karena sikap individualistis itu sangat minim. Setiap kali gua survey, gua jadi belajar banyak hal bahwa Tuhan Yesus sangat baik buat hidup gua. Gua melihat banyak orang yang masih sulit ekonominya. Dan gua tahu Tuhan setia memelihara hidup gua dari gua belum lahir ke dunia ini sampai sekarang.

11. Ada kak Fajar yang baru lulus S2 dengan cara kerja dan belajarnya yang luar biasa. Sebentar lagu dia akan mutasi karena sudah S2.

Kadang, ada sih rasa rindu yang besar banget untuk bisa ketemu mama, keluarga, dan teman-teman. Tapi, gua tahu 1 hal bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar atas hidup gua di Waropen sekarang. Tuhan mau membentuk pribadi gua menjadi lebih dewasa. Karena, jujur harus gua akui gua anak manja. Mungkin, beberapa tahun di sini akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam perjalanan hidup gua yang mungkin saja gua pergi jauh dari negara ini kelak atau entah kemana…

You feed me with Your Goodness

Your mercies new every morning

Thank You Best Friend ever πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s