ALIVE!!!

5


Ada hal yang saya syukuri dengan musim hidup saya saat ini. Saya menjalankan banyak hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya dan selalu saya cita-citakan. Kebetulan ada kesempatan jalan-jalan dengan orang-orang kantor ke Serui beberapa waktu lalu. Serui itu adalah kota di Kepulauan Yapen. Yapen tepat berada di seberang Waropen. Sebelumnya Waropen dan Yapen berada dalam satu kabupaten yang sama sebelum akhirnya mekar pada tahun 2003.

Kami pergi dengan menggunakan Kmp. Masirei dengan jarak tempuh sekitar 2 jam.

KAPAL

Perjalanan di Serui itu begitu menyenangkan. Destinasi pertama yang kami tuju adalah Sarawandori. Wah, lautnya di sini biru sekali, bersih. Tapi bagian yang paling saya suka saat di Sarawandori ini adalah saat kami menaiki sebuah perahu kecil dengan mesin untuk mengelilingi pulau-pulau di Sarawandori dan ini sangat menyenangkan! Saya yang notabene tak bisa berenang, dengan nekadnya naik perahu itu. Panas terik tidak masalah.

Jangan sia-siakan masa mudamu untuk tidak jalan-jalan, hanya karena kamu takut hitam (jadi hitam kulitnya)

-Nelica-

Itulah yang selalu saya ingat hehehe 😀

Dulu, setiap pulang sekolah SD, kalau tidak main kemana-mana dan tidak ada orang di rumah, saya selalu melakukan hobi aneh, pura-pura jadi host Jejak Petualang dan jalan-jalan di tempat-tempat sehijau Sarawandori menaiki perahu kecil. Agak konyol memang, tapi ini adalah cita-cita saya dari sejak kecil. Dan tercapai! Asyik banget! Saya gak menyangka bahwa pesan abang saya sebelum ke Papua untuk banyak lihat hal baru benar-benar tercapai. Saya tidak hanya bisa lihat banyak hal baru, tapi jutaan hal indah, pemandangan indah yang Tuhan buat. How Great Thou Art!!! Tuhan tuh ajaib bener ya bisa ciptain banyak hal indah di dunia ini. Pemandangan yang indah di berbagai tempat di dunia. Saya selalu merasa terkagum-kagum melihat hasil ciptaanNya. Kadang, saya berpikir gila, bahwa mungkin jika saya tidak ditempatkan di Papua, saya hanya akan terus berada di comfort zone dan belum tentu bisa melakukan banyak perjalanan ke berbagai tempat indah seperti Sarawandori ini. Makasih ya Tuhan memberikan kesempatan ini 🙂

Oh, ya sewa perahunya untuk 7 orang berkisar Rp300.000 saja.. Lumayan ya… Hehehe

              Serui

sarawandori1

sarawandori2
Dua sejoli kecil. Ciehhh 😀
sarawandori
Perkampungan warga di Sarawandori, Serui
sarawandori3
Ini dengan orang-orang kantor 🙂

sarawandori4
Kembali lagi bersama saya di My Trip, My Adventure 😀

Setelah itu, sorenya kami jalan-jalan ke Serui Laut.

Serui laut ini adalah salah satu bentuk objek yang ingin saya kunjungi dari kecil. Tebing-tebing putih dengan jalan meliuk-liuk dan laut lepas. What a beautiful view!!

Senja di sini saat itu kebetulan warna langitnya pink 🙂 Saya emang paling suka foto pemandangan senja, warna langitnya bisa beda-beda. Bisa pink, orange, ungu, biru, kuning. Suka banget sama langitnya 😀

SERUI
Kayaknya ini cocok untuk adegan orang lagi galau deh tempatnya hehe
SERUI1
Langitnya ❤
SERUI2
di Instagram, saya post foto ini tapi mama-mama yang lagi duduk di-crop. Hahaha peace 🙂

SERUI3

Saya senang sekali bisa melakukan perjalanan ke Serui ini 🙂

 

A sweet journey

Selamat malam readers dimanapun bagian dunia! Wah, semenjak agak sedih ya berpisah sama keluarga ke tempat yang jauh. Well, i could say, i’m happy for living to the fullest.

Kadang, dalam hari-hari kerja, sulit bekerja sama dengan beberapa rekan kerja yang such a ah sudahlah… Tapi gua berasa bersyukur banget ditempatkan di Waropen. To be honest, kabupaten ini tidak sepedalaman beberapan kabupaten lainnya di Papua yang kebanyakan orang agak takut tinggal di sana karena beberapa hal. Tapi, setelah berusaha menempuh perjalanan pencarian data sampai ke kampung-kampung di sini, ada juga daerah yang cukup pedalaman.

Sumber sukacita gua apa aja kerja di Waropen?

Ehm, kayaknya ratusan halaman novel pun gak bisa menggambarkan betapa banyak rasa syukur yang gua punya 🙂 A whole happiness. Alive.

1. Gua dipertemukan dengan teman-teman kerja yang keduanya sangat berbeda pribadi. Yang satu tegas, pintar masak. Yang satunya (kebalikannya) tapi sangat rajin cuci piring dan suka jalan-jalan. Kehidupan gua di sini membuat skill masak gua semakin baik. Perbumbuan gak pernah gua kenal sama sekali semenjak bisa masak. Pasca operasi, gua mulai bisa masak tapi rasanya sangat amat teramat datar, gua ga ngerti perbumbuan dan di sini ada teman gua yang ngajarin gua masak. Gua rasa 3 tahun lagi gua bisa buk restoran wkwk (bercanda).

Walau kami dari suku bangsa yang berbeda dan berbeda keyakinan, mereka gak keberatan mengantar dan menjemput gua ke Gereja (notabene sampai saat ini gua belum bisa naik motor, belum sempat belajar, survey lagi ramai lancar bung).

IMG_20170221_121328
Waktu masih di Jayapura, sehari sebelum ke Waropen 🙂

2. Gua mendapat sosok kakak yang bisa saling menguatkan yang notabene adalah kakak asuh gua di kampus dulu. Dia baru masuk #stiscantik loh wkwkwk 😀 Salut sama dia yang perjuangannya gigih dan tetap kuat serta tabah menghadapi banyak tantangan dalam pekerjaan. Kebetulan kakak ini memgajar sekolah minggu. Jadinya gua segereja sama dia. Nah, gua di sini ibadah di Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Berbeda dengan gereja gua sebelumnya. Lagunya juga beda. Tapi gua nyaman di sini. Dan gua salutnya kalau ada Perjamuan Kudus, ada ibadah khusus yang buat jemaat jadi makin mengerti tentang Perjamuan kudus itu.

3. Mendapat sosok bapak yang baik.

Di kantor ada Pak Bagus, beliau 3 tahun lagi pensiun. 1 kata-kata beliau yang selalu gua ingat, “Ah, sudah hidup ini jangan diambil pusing. Senang-senang saja.” Beliau selalu bersukacita. Kalau beliau masak ubi goreng selalu membagikan pada kami. Termasuk kepiting yang dikasih kuah waktu itu. Beliau sangat murah hati.

Ada juga CS di sini yang biasa dipanggil ‘Opa’ dan gua selalu tertawa waktu awal-awal panggil Opa. Gua kepikiran oppa-oppa Korea wkwkwk 😀

4. Dapat saudara-saudara baru

Bang hamdi (atasan gua) di IPDS (anyway ini harusnya kerjaan anak Komputasi, kok jadi nyasar di sini ya gua? Hehehe Tapi kok jadi agak ada pikiran nyambung sekolah IT ntar? Ah sudahlah mungkin gua bercanda. ) beliau ini pengusaha sukses di Waropen. Patut dicontoh.

Nah kalo kak wondo, melihat wajahnya pasti orang terpikir Vidi aldiano. Kadang kami bertiga pikir ia seperti orangtua kami, selalu menyuruh makan ke rumah kalau dia yang giliran masak. Kalau ada orang tahu lebih sering dia yang masak daripada kami, mungkin gua diblacklist dari daftar calon istri. astaga -_-

5. Gua ketemu pedagang di pasar yang kampungnya di Binjai. Dan dia jadi ramah sama gua. Dan ini juga mempermudah survei harga bulanan dari Distribusi (kerjaan teman gua) ke pasar karena ada dia. Hehehe senang ketemu teman sekampung.

6. Orang-orang di sini sangat ramah dan sabar 🙂

7. Gua udah sekali jalan-jalan ke pedalaman 🙂 Dan gua senang. Gua suka mandang-mandang, lihat jalan, pantai, hutan..

8. Fisik gua jauh lebih kuat di sini 🙂 Gua jarang sekali sakit.

9. Gua lebih sering olahraga di sini. Waktu itu, rasanya otak gua kusut abis entry data survey dan gua main bulutangkis sama temen gua (yang lagi mau nurunin berat badan) dan semua beban gua rasanya hilang dan badan gua berasa enteng. Olahraga itu buat kita sehat karena rasa capek habis kerja itu berkurang. 

10. Belajar bersyukur. Dulu, rasanya ke pasar bukanlah keadaan yang menyenangkan. Tapi, sekarang ke pasar aja gua senang. Internet juga hanya tersedia di tempat yang pasang Wifi (saat ini gua masih di rumah dinas jadi masih ada wifi). Ada internet via kuota di hp tapi mungkin hanya bisa kirim WhatApp. Jadi, banyak orang di sini yang nonton TV. Dan mereka bahagia tanpa harus buka Internet. Gua belajar bahwa kebahagiaan bisa kita temukan dalam hal-hal yang sederhana. Hidup mereka satu sama lain saling memperhatikan karena sikap individualistis itu sangat minim. Setiap kali gua survey, gua jadi belajar banyak hal bahwa Tuhan Yesus sangat baik buat hidup gua. Gua melihat banyak orang yang masih sulit ekonominya. Dan gua tahu Tuhan setia memelihara hidup gua dari gua belum lahir ke dunia ini sampai sekarang.

11. Ada kak Fajar yang baru lulus S2 dengan cara kerja dan belajarnya yang luar biasa. Sebentar lagu dia akan mutasi karena sudah S2.

Kadang, ada sih rasa rindu yang besar banget untuk bisa ketemu mama, keluarga, dan teman-teman. Tapi, gua tahu 1 hal bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar atas hidup gua di Waropen sekarang. Tuhan mau membentuk pribadi gua menjadi lebih dewasa. Karena, jujur harus gua akui gua anak manja. Mungkin, beberapa tahun di sini akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam perjalanan hidup gua yang mungkin saja gua pergi jauh dari negara ini kelak atau entah kemana…

You feed me with Your Goodness

Your mercies new every morning

Thank You Best Friend ever 🙂

Halaman Pertama

13 Februari 2017

Malam itu, sebelum aku berangkat ke Cengkareng, kami sekeluarga berdoa di rumah opung dan beliau menangis. Beliau berkata, “Opung senang, setiap kamu ke sini, rumah opung mengkilat.” Aku merasa sedih karena beliau sampai menangis mengantarkan kepergianku. Tapi, aku sungguh bahagia dengan 1 ayat Alkitab yang beliau sampaikan padaku dalam doa itu..

Efesus 3:20

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.

Saya percaya hal-hal besar melebihi segala akal pikiran saya, akan Tuhan kerjakan dalam hidup saya. Waktu magang kerja di Jakarta, saya ingin sekali suatu siang saya bisa dikasih makan nasi kotak saja sama seperti beberapa teman saya dari Subdit lain. Dan ternyata di hari itu juga, saya ditraktir makan pegawai-pegawai yang berulangtahun di bulan Januari untuk makan di Atrium (Ichiban Sushi), dan saya bisa makan ramen (makanan kesukaan saya). Jauh lebih enak daripada hanya sekedar nasi kotak. Seringkali, saya meminta sesuatu dan Tuhan memberikan jauh lebih banyak, lebih baik daripada yang saya minta. 

Kami pun pergi (seperti biasa) sangat amat teramat on time. Ibu saya berbicara dengan ibu teman saya sebut saja Budi. Mereka berbincang mengenai banyak hal bahwa ibu Budi itu sangat berat melepas anaknya yang notabene laki-laki untuk pergi ke Papua. Dalam hati saya berpikir, “Mungkinkah mama merasakan hal yang sama tapi tak mengungkapkannya?”

Harus aku akui, keluargaku bukan keluarga yang suka galau, mellow dan lain sebagainya. Hanya aku saja yang agak mellow dan khawatiran serta panikan. Mereka semua easy going. Bahkan, mama bahagia sekali melepasku pergi jauh. 

Aku bertemu dengan iman, ian, septy, hotna, ria, dan sarshe. Mereka adalah inner circle saya. Waktu di Gate terakhir, saya berjalan duluan sendiri mendahului Sari dan Nelica. Berkali-kali saya melakukan perjalanan, tapi harus saya akui kalau ini adalah perjalanan paling berat yang harus saya lalui berpisah jauh dari semua orang yang saya sayangi dan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, tidak ada saudara sama sekali di Papua. Rasanya, seperti akan pergi ke belahan dunia mana gitu.

Puji Tuhan, penerbangan tengah malam hingga pagi itu cukup tenang. Tapi, berat berpisah dengan mereka semua. Jadi, saat lampu dimatikan dan semua orang tertidur lelap, saat itu rasanya menangis sedikit merupakan hal tepat. Saya tak punya bayangan untuk bagaimana cara kembali pada mereka semua. Tapi, hidup harus terus berjalan. Pasti, akan ada jutaan hal dan kesempatan luar biasa yang bisa saya nikmati di sana. Pasti Tuhan punya rencana yang indah.


14 Februari 2017

Setibanya di Bandara Sentani, Jayapura saya bersyukur koper saya aman-aman saja. Kami pun melangkah ke BPS Provinsi ber-65 orang. Sepanjang jalan udara begitu segar, banyak bukit-bukit hijau, udara yang begitu sejuk, dan semua hal ini tak saya temui di Jakarta. Rasanya bahagia sekali 🙂

Sesampainya di BPS Provinsi, kami diberi pengarahan oleh Bapak kepala beserta jajarannya dan senior-senior kami. Ketika salam-salaman, bapaknya bilang, “Saya pikir kamu Chinese” (sudah sering dikatakan demikian wkwkwk). Akhirnya pembagian penginapan pun diadakan dan aku menginap beserta keempat orang temanku lainnya di rumah kepala bidang. Dan kami diantar oleh Om Titus (Sebutan bapak yang ramah di Papua adalah Om. Pengetahuan baru) ke rumah dinas itu. Tadinya aku tidak begitu nyaman karena harus berpisah dengan banyak teman lainnya yang menginap di Kotaraja. Tapi ternyata sesampainya di sana, bapak sudah ada dan tadinya kami dibagi menjadi 2 kamar. Namun karena azas solidaritas, kami bergabung menjadi 1 di kamar atas yang ada ACnya puji Tuhan karena ini dekat laut agak panas dan kami bisa dikasih kamar ada ACnya. Ternyata makan malam disediakan oleh bapak ibunya dan makanan itu enak sekali 🙂 Saya belajar banyak hal bahwa kalau saya ditumpangi orang, saya harus melayani tamu saya sepenuh hati di rumah saya kelak. Semoga bapak dan ibu semakin diberkati Tuhan ya. Walau saya dan beliau bekeyakinan berbeda, tapi saya belajar untuk murah hati pada orang lain.