Harapan yang muncul kembali

3


Gua merasaย bahwa gua tak bisa berbuat apa-apa untuk cita-cita gua. Gua merasa gak berguna. Gua frustasi dan putus asa karena gua tidak bisa menerapkan apa yang dipesankan saudara gua 100% dalam menjalani hidup ini. Sampai di suatu saat seorang teman gua mengatakan bahwa semangat gua udah bagus. Baru itulah satu sisi positif kehidupan gua yang sekarang gua ketahui.

Gua merasa tidak dapat mempercayai banyak orang. Gua mengalami rasa kekecewaan agak besar buat beberapa orang. Gua frustasi karena merasa bahwa sepertinya gua tak bisa memperbaiki suatu kondisi yang buruk. Gua frustasi dengan sistem dan beberapa orang. Gua benar-benar hampir putus harapan. Sampai-sampai gua berusaha mencari-cari apaย passion sejati dalam hidup gua. Berhari-hari gua terus berpikir apakah setelah 8 tahun gua bekerja di instansi ini, gua akan berpindah haluan mengejar passion gua secara fulltime atau melakukan hal-hal yang pastinya akan ditentang oleh beberapa orang di hidup gua. Entahlah, gua terus-menerus bertanya-tanya sampai suatu saat ada seorang kakak yang bilang, “Kamu punya beban dan visi kan untuk kerjaanmu dek? Berarti Tuhan emang pengen kamu kerjakan itu. Dan apa setiap passion kamu itu sesuai dengan kehendak Tuhan?” Gua pun terdiam, gua tak mengambil kesimpulan apa-apa. Yang jelas, gua hanya bisa berusaha mengerjakan tugas gua sebaik mungkin sekarang dan soal-soal yang lain itu akan ada jawaban pastinya kelak bagaimana.


Di suatu siang, kak Ata (Kakak di Gereja) sms gua untuk mengajak gua dan kak Ester ikut ibadah Tunas (Untuk anak-anak kisaran kelas 5 SD-SMA). Tadinya, gua dan kak ester gak pengen ikut, tapi ternyata sempat untuk ikut (rapat di kantor selesai tepat waktu).

Sesampainya di sana, gua lihat adik-adik yang biasa ada di Sekolah minggu.

Salah satu sumber sukacita gua adalah setiap lihat adik-adik ini ๐Ÿ™‚

Meski kadang gua sempat stres soal kerjaan, Tuhan kasih satu hal menarik di sini, anak-anak ๐Ÿ™‚

Lalu, singkat cerita datanglah seorang kakak-kakak yang gua gak kenal dan belum pernah lihat sebelumnya. Ternyata kakak itu menyampaikan Firman dan pesannya adalah untuk tetap percaya pada Tuhan Yesus. Sekalipun kalau adik-adik gak punya ongkos buat naik ojeg ke sekolah, adik-adik harus percaya sama pertolongan Tuhan bahwa Tuhan pasti sanggup untuk menolong dengan mengantarkan orang yang mau mengantarkan kalian ke sekolah.

Gua harus akui, gua mengalami krisis kepercayaan baik pada diri sendiri, orang lain, maupun Tuhan. Ada beberapa hal yang gua doakan sejak lama namun tidak berdampak apa-apa sampai sekarang. Terkhusus 1 doa untuk kerabat gua. Gua agak kecewa, frustasi, bingung harus berbuat apa dan nyaris tak punya pengharapan. Tapi, setelah mendengar khotbah itu, gua kembali membangun rangkaian harapan gua yang udah hancur sebelumnya. Dan gua nangis.. Gua gak tahu apa adik-adik ini lihat gua nangis atau gak. Yang jelas, itu karena gua sudah gak sanggup nahan air mata lagi. Sejujurnya malu banget diliat nangis sama orang, apalagi sama anak-anak. Sampai sekarang, gua asumsikan mereka ga sadar aja kalo gua nangis.


Dalam khotbah kak Ice di Ibadah Tunas, dia kasih kesaksian bagaimana Tuhan menolongnya bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai terbaik diantara teman-teman seangkatannya di Teknik Pertambangan Universitas Cenderawasih. Beberapa minggu lagi dia akan berangkat S2 ke ITB karena dapat beasiswa LPDP.

Kak Ice sangat menginspirasi gua. Dia orang asli Papua yang menurut gua luar biasa semangat belajarnya. Gua ingat kata mama gua, “jangan pernah mengecilkan cita-cita la!” Ok deh, gua jujur aja ya… Kalo Tuhan perkenankan beberapa tahun lagi gua pengen S2 Ekonomi ke Belanda, Erasmus University of Rotterdam

Gua sekarang punya harapan akan hidup di Waropen ini, menjalani pekerjaan ini, menjalankan cita-cita gua dan misi hidup di sini sebelum gua pergi dari tempat ini. Masih ada jutaan hal indah di sini. Dan Tuhan gak akan mungkin menaruh gua di sini tanpa sebuah tujuan yang mulia. Pasti ada hal-hal luar biasa yang Ia mau lakukan buat hidup gua di sini. Gua harus semangat terus! Pasti bisa! ๐Ÿ™‚


Selama ibadah tunas itu, gua melihat wajah polos dan mata adik-adik, gua meyakini dan percaya benar bahwa suatu hari nanti mereka juga bisa seperti kak Ice. Mungkin mereka tinggal di daerah yang bisa dibilang tidak begitu maju, namun gak pernah ada 1 hal pun yang bisa menghalangi cita-cita kita selagi kita mau terus berusaha dan berdoa. Gua sangat yakin dan sambil berdoa dalam hati, gua ingin suatu hari nanti di masa tua ketika liburan dengan keluarga ke luar negeri, gua akan ketemu adik-adik ini dalam keadaan yang jauh lebih baik. Mereka kuliah di tempat-tempat yang bagus di luar negeri dan kembali membangun Waropen. Gak ada yang mustahil kalau Tuhan berkenan. Semangat terus adik-adik! Tuhan yang bikin kalian pintar, tapi kalian perlu belajar rajin! ๐Ÿ™‚

Lebih baik ganggu aku

2


Gua punya seorang teman yang kepribadiannya cukup mellow. Beberapa kali gua memergoki dia menangis. Mungkin masalah dia berat.. Sejujurnya gua gak suka dengan sikapnya yang seperti itu. Gua gak suka lihat orang nangis. Jadi, setiap kali dia menjadikan gua sebagai bahan gangguan atau membuat lelucon dengan gua, gua selalu pasrah aja. Lebih baik dia ketawa-ketawa bahagia dengan ganggu gua daripada gua lihat dia nangis.

Gua harap, sukacita sejati dari Tuhan Yesus bisa lu dapatkan kak. Gua bukan bilang nangis itu gak boleh. Nangis itu manusiawi. Tapi, jangan terlalu sering.. Sebarkanlah sukacita buat orang di sekitarmu. Percayalah sekalipun semua orang, semua temanmu pergi, masih ada Tuhan Yesus yang menemani. Walau memang sulit juga buatku menerapkannya. Aku harap hidupmu lebih banyak dipenuhi kebahagiaan kak. Janganlah terus-menerus seperti ini. Serta cobalah untuk ‘memakai sepatu orang lain’ selanjutnya..

Kesempatan berikutnya

1


Kepergian kak eirene menyadarkan gua akan banyak hal. Selama gua kuliah di Jakarta, gua gak pernah ketemu sama dia. Sekarang dia sudah pergi dan gua sadar bahwa kita gak bisa mengulangi momen. Pakailah kesempatan sebaik mungkin untuk bisa bertemu dengan kerabat kita, karena kita gak pernah tahu kapan kita atau mereka akan pergi. Mungkin, ke depannya gua akan berusaha untuk bisa keep in touch dan menjadi pendengar atau bercerita banyak hal dengan orang-orang yang gua sayangi. Gua menyesal selama tingkat akhir kuliah gak pernah ketemu kak eirene. Kami sama-sama kuliah di jurusan Statistika. Hanya saya dia di UNPAD dan setahun di atas gua. Di tahun terakhir gua kuliah, dia kerja di salah satu Bank swasta di Jakarta.

Kak eirene pergi saat usianya masih sangat muda, 24 tahun karena kecelakaan mobil. Sampai sekarang, gua gak bisa mengendarai kendaraan apapun. Seperti ada rasa trauma sedikit.

Kepergiannya menyadarkan gua lagi bahwa kita bisa saja dipanggil Tuhan kapan saja. Sesehat apapun, semuda apapun umur kita, kita gak pernah tahu.

Thanks pung!

Hello readers all over the world. Beberapa waktu lalu, saya membaca buku, ehm ehm… “The Sacred Search” karyanya Gary Thomas.
Mau tahu isi bukunya apa? Ya ya silakan baca sendiri ya ๐Ÿ˜€

Ada sebuah bab dalam buku ini yang memberikan pertanyaan, “Gambarkan kakek dan nenek yang ideal bagi anak-anak Anda di masa depan.”

It reminds me to my grandfa and grandma. Especially my grandma. She always pray for me and give many verses to build my spirit. One of them is Ephesians 3:20 before going to Papua. They are like my parents-to be honest… Almost every month when studying at STIS, i visited them. They taught me to be better girl than before. She shared her experiences in life. Oh ya, she often asks me for singing songs-that she forgot. She taught me more about Bible. I feel grateful to have them in my life.

I want have grandfa and grandma to my children in the future who can be like them. Always pray for their grandchildren by mentioning our name one by one.

Thanks so much pung. I will send photos of papua soon for you two ๐Ÿ™‚

Kak eirene, selamat jalan ya kak. Aku gak sangka kakak pergi secepat ini. Dulu waktu kita kecil, kita sering main bareng seru-seruan sama Petra. Kami semua sangat kehilangan kakak. Tapi, rasa sayang Tuhan Yesus jauh lebih besar daripada rasa sayang kami ke kakak ei…
Selamat jalan ya kak ei, kami semua pasti rindu kak eirene…
Maaf aku ga bisa pergi ke sana sekarang.